Prinsip

Table of Contents

Prinsip

Prinsip

Teknologi bekerja berdasarkan prinsip. Sebagai contoh, sistem hidraulik bekerja berdasarkan prinsip jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya (Hukum Pascal). Prinsip kaitannya dengan teknologi adalah, suatu aturan atau hukum yang mendasari operasi atau kerja teknologi.

Sebagai teknologi, akuntansi juga bekerja berdasarkan prinsip. Prinsip akuntansi adalah segala ideologi, gagasan, asumsi, konsep, postulat, kaidah, prosedur, metoda, dan teknik akuntansi yang tersedia baik secara teoretis maupun praktis yang berfungsi sebagai pengetahuan (Suwardjono, 2005). Prinsip akuntansi yang dijadikan dasar untuk menerapkan akuntansi disebut dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU)[1]. PABU dapat berupa standar akuntansi yang dikeluarkan oleh badan autoritatif maupun pedoman-pedoman akuntansi yang telah dipraktikkan (diterima oleh umum). Berikut ini beberapa PABU yang digunakan dalam menerapkan akuntansi.

  1. Kesatuan Usaha

Konsep dari prinsip ini adalah, entitas berdiri sendiri dan terpisah dari pemilik. Oleh karena itu, entitas harus melaporkan kegiatan usahanya pada pemilik. Selain itu, modal yang disetorkan pemilik pada entitas, dari sisi entitas merupakan utang entitas ke pemilik.

Dalam dunia bisnis, entitas bisnis dapat memiliki entitas lain melalui kepemilikan saham. Namun, untuk dapat disebut sebagai satu kesatuan usaha, entitas induk (yang memiliki entitas anak) harus memiliki pengendalian secara ekonomik atas entitas anak. Oleh karena itu, pengendalian secara ekonomik menjadi prinsip dalam menentukan bahwa beberapa entitas ada dalam satu kesatuan usaha.

  1. Kelangsungan Usaha (Going Concern)

Dalam prinsip ini, entitas didirikan untuk terus menerus melakukan usaha sampai waktu yang taktentu (bukan takterbatas). Oleh karena itu, entitas diasumsikan tidak akan menghentikan atau mengurangi skala usahanya di masa depan. Jika maksud yang seperti ini muncul, maka entitas harus melaporkan laporan keuangannya menggunakan basis yang berbeda. Prinsip kelangsungan usaha ini menjadi dasar bahwa laporan keuangan disusun atas dasar periode waktu (periodisasi/periodicity). Konsep ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam siklus akuntansi.

  1. Konsep Pengukuran

Akuntansi berfungsi untuk mencatat data-data transaksi (pertukaran), dan mengukur besarnya transaksi dalam satuan moneter (Rp, $, ¥, dll). Jumlah uang dari transaksi inilah yang kemudian dilaporkan dalam laporan keuangan. Jika entitas hanya mencatat transaksi ke dalam akun, tanpa mengukur besarnya transaksi, maka informasi yang disajikan tidak akan berguna. Informasi keuangan akan berguna jika transaksi diukur besarannya. Sehingga, besarnya transaksi ini dapat diperbandingkan dalam satu entitas antar periode, maupun antar entitas antar periode. Saat ini terdapat beberapa dasar pengukuran transaksi.

Namun, pengukur yang paling sering digunakan adalah kos[2] (cost). Sebagai contoh, Wayne Enterprise menawarkan bangunannya seharga Rp2.000.000. Stark Industries tertarik untuk membeli, dan setelah melakukan negosiasi, pada akhirnya kedua pihak sepakat menghargai bangunan itu Rp1.000.000. Setelah itu, Stark Industries membeli bangunan Wayne Enterprise sesuai harga kesepakatan, yaitu Rp1.000.000. Bagi Stark Industries, Rp1.000.000 adalah kos bangunan. Dari contoh ini, maka kos dalam sudut pandang entitas pelapor, dapat didefinisikan sebagai pengukur atas transaksi (pertukaran). Penjelasan mengenai pengukuran transaksi akan dibahas lebih lanjut dalam bagian siklus akuntansi dan pembahasan setiap akun dalam bab-bab selanjutnya.

  1. Substansi Mengungguli Bentuk (Substance Over Form)

Dalam akuntansi, suatu transaksi atau peristiwa lain dicatat atas dasar substansi ekonomiknya, bukan hanya bentuk hukumnya. Sebagai contoh, Queen Industries memiliki sebuah bangunan yang disewakan ke Pym Technologies atas dasar sewa guna usaha. Dalam sewa menyewa ini, Pym Technologies mengendalikan manfaat ekonomik dari bangunan, selain itu Pym Technologies juga mengendalikan risiko ekonomik atas bangunan. Walaupun secara hukum bangunan dimiliki oleh Queen Industries, namun yang mencatat bangunan adalah Pym Industries. Hal ini dikarenakan akuntansi lebih mementingkan substansi ekonomik yang tercermin dari pengendalian manfaat dan risiko ekonomik dari bangunan.

  1. Asas Akrual

Asas akrual adalah, suatu transaksi atau peristiwa ekonomik diakui pada saat terjadinya (bukan pada saat kas dan setara kas diterima/dibayar) dan dicatat pada periode terjadinya. Asas akrual ini membuat laporan keuangan tidak hanya menyajikan informasi mengenai kas dan setara kas yang diterima atau dibayarkan, namun juga menyajikan informasi mengenai kewajiban untuk membayarkan kas di masa depan dan sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa depan. Contoh dari penerapan asas akrual ini salah satunya adalah adanya akun piutang (pendapatan yang belum diterima kasnya) dan akun utang (kewajiban untuk membayarkan kas di masa depan).

  1. Biaya dan Manfaat

Akuntansi menggunakan prinsip bahwa dalam menyediakan informasi keuangan, biaya penyediaan informasi harus lebih kecil dari manfaatnya. Hal ini berimplikasi pada konsep materialitas. Dalam konsep materialitas, suatu informasi disebut material jika informasi tersebut dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Sebagai contoh, jika pada saat audit ditemukan bahwa entitas melakukan kesalahan pembukuan atas transaksi pada tahun sebelumnya senilai Rp1.000. Pendapatan rata-rata bulanan entitas adalah sekitar 3 Milyar Rupiah. Untuk melakukan koreksi, bukti-bukti transaksi harus dicari kembali dalam gudang dokumentasi. Berdasarkan konsep materialitas dan prinsip biaya dan manfaat, kesalahan pembukuan senilai Rp1.000 ini tidak harus (tetapi boleh) dikoreksi dalam laporan keuangan, karena Rp1.000 jumlahnya tidak material dan tidak akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Selain itu, upaya untuk mencari dokumen pendukung transaksi tersebut bisa jadi cukup besar dan tidak sebanding dengan manfaatnya.

Dalam mencatat data, mengolah data, dan menyajikan informasi, biaya dalam melakukan semua hal ini harus lebih kecil dari manfaatnya. Sebagai contoh, perusahaan perseorangan yang melaporkan laporan keuangannya hanya kepada seorang pemilik tidak perlu menggunakan nilai wajar untuk menilai aset dan liabilitasnya, karena biaya penilaian aset dan liabilitas cukup mahal dan tidak akan sebanding dengan manfaat dilaporkannya laporan keuangan ke pemilik.

Sumber : https://jalantikus.app/