Uang Pangkal Besar tak Jamin Lulus Ujian Mandiri

Uang Pangkal Besar tak Jamin Lulus Ujian Mandiri

Uang Pangkal Besar tak Jamin Lulus Ujian Mandiri

Kemenristekdikti meminta rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memperhatikan

kemampuan ekonomi calon mahasiswa yang melalui jalur mandiri dalam menetapkan uang pangkal atau Sumbangan Pembangunan Institusi (SPI). Bagi yang tidak mampu, bisa saja tidak dikenakan SPI atau pungutan lain selain Uang Kuliah Tunggal (UKT) atau SPP. Seleksi tetap harus berdasarkan prestasi dan pendekatan lokalitas.

Kuota jalur mandiri juga ditetapkan maksimal 30 persen dari daya tampung

. “Dari kuota tersebut, jika mahasiswa yang diterima dari golongan kaya, kalau bayar lebih, ya silakan. Tapi, jika mahasiswa itu dari kalangan tidak mampu, rektornya wajib memberikan solusi,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir. Di antara jalan keluar, lanjut Nasir, calon mahasiswa itu bisa diajukan ke bidikmisi.

Mereka juga bisa memilih untuk membayar UKT di level I sebesar Rp500.000 atau Rp1 juta

untuk level II per semester. SPI yang besar bukan jaminan diterima di PTN. Proses seleksi juga berdasar nilai akademik dan lokalitas daerah. Nasir tak memungkiri banyak pendaftar dari Jakarta yang menyasar kampus-kampus negeri di daerah, bahkan hingga luar pulau. Jika tidak dikontrol, mereka akan mematikan potensi siswa daerah lantaran kalah bersaing.

Tujuan pemerataan pendidikan tidak berjalan. Bisa muncul persepsi bahwa kampus negeri hanya milik siswa ibu kota dan berduit. “Ada anggapan calon mahasiswa mengisi uang pangkal mahal terus diterima, tidak ada seperti itu. Yang ada malah mengisi mahal tapi tidak diterima,” jelasnya.

 

Baca Juga :